Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Peluh Untuk Pulih

Rinai-rinai rinduku jatuh basahi hatimu Ada secerca rindu menyambut diambang pintu Tidakkah kau ingin coba tuk kembali Menyeruput hangat dari sepasang cangkir kopi dan bincangan dari imaji? Relung hati yang gersang Rutin disiiraminya hingga subur Mengambil jalan lain atau mengikuti arus takdir, tak apa Perutku bak dihinggapi ribuan kupu-kupu Sebelum saat ini, dilangit tampak benar-benar kelabu Banyak debu dan polusi Sesak dan jauh sekali dari kata sejuk Bagai tamparan yang sangat menyakiti Lihat kota jakarta? Langitnya tidak bisa berbohong Dia terlihat secerah harapan baru Harapan kita semua akan pulihnya dunia ini Pandemi ini memang menakutkan Tapi sikap serakah yang dimiliki manusia lebih menakutkan Bumi tengah melepaskan rasa sakitnya Mari bantu nyawa lain untuk tetap berada di bumi, ya? Brebes, 14 Mei 2020

Menjamah Hati

Jika perpisahan mengundang kerinduan Apakah itu bisa kembali mengundang pertemuan? Suara riuh hujan menenggelamkanku dalam dinding yang ku buat sendiri Menyembunyikan rasa, amarah, bahkan semua hal yang menurutku tak perlu diumbar Ada kecamuk dalam dadanya Ada rasa sakit yang tak bisa dijelaskan lewat aksara Kamu perlu menyelami sorot matanya Menjamah hatinya yang mungkin berdarah Kalau Sejatinya kau masih setia merapal namanya Sepanjang doa atau saat merindu Jangan terus saling bergeming dan mempertinggi ego masing-masing Sekedar tuk bertanya tak apa Senjamu mengajarkan siapapun dia di masa lalu tak pantas untuk kembali di masa depan Ingat lagi debar itu saat kamu sedang bersamanya Jangan dulu berpikir tuk sudahi semua Senja.. Kau berhasil menaruh banyak keindahan ditiap liku kehidupan Bahkan disudut manapun Langit-nya mempesona Awan-nya membuat jatuh hati Brebes, 02 Juni 2020

Secerca Harapan Yang Pupus

Suara deru nafas mulai terdengar Lalu suara denting jam mulai mendominasi suasana Bagai labirin nyata Aku tersesat dalam sebuah dunia Aku kelimpungan diatas dunia yang penuh sandiwara Biarkan senja ini menjadi saksi Robohnya pertahanan yang sudah lama ku bangun dari awal Sialan, lemah sekali diriku ini Terimakasih pernah lekat dan begitu dekat Senja memang selalu memberi kebahagiaan tersendiri bagi penikmatnya Kita terlihat berbeda Hanya saja, senja menjadi alasan utama kita sama Harapanku pupus dipertengahan jalan Diantara kesunyian dan kelamnya keadaanku Kau tak kunjung kembali menyelamatkanku Biarkan rasaku mengapung dan Terombang-ambing tak karuan Untuk kemudian berlabuh pada sebuah pulau tanpa ada lagi tentang kita Brebes, 02 Juni 2020

"S"

Segala jenis tanda yang disertai tanya Sabarmu mulai rapuh Sunyi senyap pada siang malammu Semburat jingga dipergantian waktu Semata tujuan dari banyaknya ragam pencarian Segala angan serta asa Sekejap hilang semua percaya Setelah semua ini usai Senja adalah rindu dan hati Semua aksara dan netramu adalah tragedi Selalu terngiang-ngiang dalam malam sunyiku Sebenarnya aku ingin menjadi terang dalam gelapmu, namun.. Senja ternyata membuatku cukup Seperti aku, memiliki atau tidak rasaku tak pernah habis

Pamit Untuk Pergi

Diujung senja kala itu Aku menanti sebuah kepastian yang tak kunjung menjadi nyata Aku terbelenggu oleh rasa sakit Ketika kamu memilih pergi, menyerah, dan mengakhiri semua Aneh memang Kita yang terlihat baik-baik saja Malah berpisah secara tiba-tiba Rasaku dan rasamu tidak pernah menjadi satu Kau tak pernah benar-benar kugenggam Sama-sama saling menyakiti Silahkan mengembara Cari cara kebahagiaan yang tak kau dapatkan dariku Sore ini aku teringat tentang senja yang kamu janjikan untuk kembali saat itu Kamu bohong.. Rupanya senjanya tak kunjung kembali Malah kau yang pamit untuk pergi Brebes, 02 Juni 2020

Tumbuh

Kamu tanam Serta kamu pupuk demi kamu tetap baik-baik saja Selalu baik-baik saja Entah itu pura-pura atau benar tak ada apa-apa Mengikis rasa sebab banyak emosi yang harus tertahan dalam-dalam pada relungmu Gaduh sebab ricuh antara banyak hal yang membuat tersungkur jatuh Membebani pundak serta langkah pijakmu Segala khilaf yang luput Semisal sesekali kamu rapuh, jatuh, tersungkur Kamu boleh menangis Boleh meraung mengadu pada Tuhanmu Perbaikilah mulai detik ini Segala buruk biarkan saja melenggang Diupayakan serta diperjuangkan Selaras dengan hasil yang memuaskan Sebab lagi-lagi, mau menjadi pribadi yang siap diajak kukuh berpijak Brebes, 10 Mei 2020

Semesta Lebih Tahu

Aku tergugu dalam kenyamanan Menerawang batas-batas logika Kau tetap menggenggamku meski kau tahu hatiku lebam Aku tak tahu aku sedang kenapa Sungguh, otakku terasa penuh Pulih atas apa yang aku pilih Segala patah, eluh, dan peluh Semoga bukan hanya pengganti Tidak apa sesekali merasa semesta begitu tak adil Sampai menangis terisak-isak tangis pilu jadi tempat pulangmu Setelah itu menebar senyum palsu Tidak apa kau tertatih Namun, jika hanya basa-basi dan kebohongan Bukan bermaksud menyuruhmu pergi, terserah maumu Aku tak suka mengada-ada perihal rasa Separuh saja, rasaku, rasamu Brebes, 09 Mei 2020

Secerca Wejangan Berarti

Gigil tengah menghujami relung hampa didadaku Wejangan-wejanganmu bagai kalimat merdu yang syahdu "Kamu harus berani perih, boleh berkeluh kesah. Asal jangan ceritakan pada siapapun" Selama nenek masih ada, katamu Kau mengatakan "jika kelak aku sudah tiada" dan kau butuh tempat untuk mengadu haru biru Saat yang kau pikir teman telah mulai beranjak berlalu satu persatu Coba tengok siapa yang ada selain aku?, orang tuamu Mereka akan menampung banyak rasamu Mencari langkah yang salah sampai harus jatuh berkali-kali Depan belakang, kanan kiri, banyak pendusta yang siap memeluk, menusuk, dan mengkhianati Doa menjadi satu-satunya bentuk kasih-cintaku Yang tersayang enam tahun lalu, aku merindukanmu Namun bila bunga terakhir telah ditaburkan, aku bisa apa? Jangankan menceritakan segala keluh kesahku Sekedar ingin melihatmu saja, harus ku patahkan impian itu Benar katamu, jangan salah mengartikan sebuah kepercayaan Brebes, 09 Mei 2020